Perempuan yang Tahu Batas

Sebenarnya, draft ini sudah tersimpan lama setelah gue nonton film Kartini, beberapa bulan lalu. Tahu apa yang gue rasakan? Rasanya kayak ada gemuruh di dada gue. Perempuan Indonesia, layaknya nonton film tersebut dan menjadikan sebuah refleksi dalam hidupnya.

Gue nulis ini, karena kegelisahan yang sudah meredam, tiba-tiba muncul kembali.

Apa yang Kartini ajarkan tentang emansipasi wanita?

Mendapatkan hak yang sama dengan kaum Pria? Hak apa?

Selama gue menonton film, hak yang Kartini maksud adalah hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak.

Screenshot_2017-06-15-14-08-45-84

Pada masa itu, perempuan seumuran Kartini, tidak bisa mengenyam pendidikan yang layak. Menikah di usia muda, dan berakhir di dapur. Bahkan membaca saja nggak bisa. Itu yang menjadi kegelisahan Kartini. Dia nggak mau berakhir, seperti mereka. Dia mau perempuan mendapatkan hak yang sama, disini soal pendidikan. Karena ibu adalah madrasah/sekolah pertama anak-anaknya. Ibu yang cerdas akan melahirkan anak-anak yang cerdas. Semua menentang Kartini saat itu, mengira jika Kartini pintar dia akan ‘ngelunjak’ dan merebut hak kaum Pria, lalu merajai mereka (di mana waktu itu, para Bupati takut jika Kartini akan jadi Bupati).

Sebenarnya, bukan itu yang Kartini inginkan.

Gue lupa siapa nama Kakak perempuan Kartini yang paling tua, kalau nggak salah namanya Soelastri (koreksi ya, kalau gue salah sebut). Beliau menikah di usiaΒ  muda, kemudian kabur dari rumah suaminya, karena suaminya mau menikah lagi, menganggap jika Beliau tidak pintar dan ingin menikahi wanita yang pintar.

Gue ngerti, sekarang ini semua bilang, menikah adalah jalan penyelesaian segala problematika kaum Perempuan yang masih lajang. Padahal, nggak sepenuhnya begitu. Ada juga, yang bilang, “ngapain anak perempuan sekolah tinggi-tinggi? ntar nggak laku. Nikah aja udah!” atau “Pantes nggak nikah-nikah, sekolah mulu sih! Kerja mulu sih!”

Hey, come on!

Gue akan jawab dari perspektif diri gue sendiri, kalau gue dikatai dan ditanyai seperti itu, jawaban gue adalah: gue ingin ntar anak-anak gue lahir dari ibu yang cerdas. Itu aja. Perempuan tekun bekerja, nggak selalu diartikan ingin terlihat lebih tinggi derajatnya dari kaum pria. Kami bekerja, karena kami punya keinginan yang ingin kami capai. Karena nggak melulu setelah kita menikah nanti, akan bergantung dari gaji suami.

Oke, gue pernah baca kalimat ini, “Saat menikah nanti, jika istri tidak bekerja, pintu rejeki akan dititipkan ke suami.” tapi… bagaimana dengan istri-istri yang sekarang ini sedang berjuang mencari nafkah untuk keluarganya, kemudian dihadapkan pada sebuah kalimat tersebut? Pasti, sedih. Live is a choice.

Cerdas disini, yang gue maksud bukan melulu tentang tingginya jenjang pendidikan seorang perempuan. Tapi, bagaimana seorang perempuan mau membuka pikirannya lebih luas, mau belajar lebih banyak, dan pendidikan nggak selalu di dapatkan dari bangku sekolah. Let’s say, nyokap gue contohnya. Nyokap gue mungkin cuman lulusan SMA, tapi, nyokap gue nggak pernah berhenti buat belajar. Dia mungkin sosok Kartini yang gue kenal. Nyokap gue layaknya Kartini dulu, berkorespondensi dengan teman-temannya untuk bertukar pikiran, cuman bedanya, nyokap gue nggak bisa bahasa Belanda atau bahasa Inggris. Jadi jaringan korespondensi dia, masih di wilayah Indonesia. Beliau pernah cerita punya kenalan inilah, itulah, yang beginilah dan begitulah.

Setelah lulus, nyokap gue juga masih belajar. Kursus jahit. Nyokap benar-benar tekun menjalaninya, inget banget dulu waktu gue masih TK, gue sering nemenin nyokap gue kursus jahit naik sepeda, dan nemenin nyokap ujian menjahit di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Nyokap masih suka membaca, apa pun, entah itu novel atau koran-koran bekas yang nantinya akan jadi pola baju.

Apa nyokap gue bekerja? Ya, nyokap buka jahitan di rumah. Bokap gue juga kerja. Tapi, nggak pernah tuh gue ngelihat nyokap alfa akan kewajibannya menjadi ibu rumah tangga. Masakan enak, ngurus rumah, anak, suami, dan kadang masih bisa menikmati waktu me timenya.

“Lah kan, nyokap lo, work from home! Gimana yang kerja kantoran?”

Masih bisa kok! It’s all about time management. Gue mungkin diolok-olok sok menggurui padahal gue belum menikah dan belum lulus. HAHAHA. Teori emang seratus, tapi kadang prakteknya nol besar. Itu untuk yang nggak mau berusaha. Yang gue garis bawahi disini adalah, kewajiban dan hak seorang perempuan harus seimbang. Ketika kita menuntut hak yang sama, berarti kita juga berkewajiban yang setara.

Ya, emansipasi sih, boleh, asal nggak kebablasan. Seperti apa yang ditulis Kartini pada suratnya.

 

p.s. if you have read this, let’s share your thought at comment below. Gue akan dengan senang hati untuk bertukar pikiran. Baik yang pro atau kontra. Tapi, gunakan kalimat-kalimat yang menyanangkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s